*Tahun Baru di 12 Rajab 1447H: Saatnya Umat Menguatkan Iman, Bersatu, dan Membela Palestina*

*Tahun Baru di 12 Rajab 1447H: Saatnya Umat Menguatkan Iman, Bersatu, dan Membela Palestina*

Spread the love

*Tahun Baru di 12 Rajab 1447H: Saatnya Umat Menguatkan Iman, Bersatu, dan Membela Palestina*

Detikappi.com

Pergantian tahun sering kali dirayakan secara seremonial. Namun ketika tahun baru bertepatan dengan 12 Rajab, umat Islam seharusnya memaknainya lebih dalam. Rajab adalah bulan mulia, bulan refleksi dan persiapan ruhani, yang mengingatkan bahwa waktu bukan hanya berlalu, tetapi harus diisi dengan perbaikan iman, persatuan umat, dan keberpihakan pada keadilan.

Di tengah krisis moral, sosial, dan kepemimpinan yang melanda dunia, penguatan iman menjadi kebutuhan mendesak. Iman tidak boleh berhenti sebagai simbol atau identitas, tetapi harus menjelma menjadi sikap hidup: jujur dalam amanah, adil dalam keputusan, dan berani membela kebenaran. Iman yang kuat melahirkan kepekaan sosial dan kepedulian terhadap penderitaan sesama, baik di sekitar kita maupun di belahan dunia lain.

Karena itu, tahun baru ini harus menjadi momentum menguatkan persatuan umat. Umat Islam terlalu lama terkuras energinya oleh perpecahan internal, perbedaan yang tidak dikelola dengan hikmah, serta konflik kepentingan yang menjauhkan dari tujuan besar. Padahal, sejarah membuktikan bahwa umat yang bersatu atas dasar akidah yang benar akan menjadi kekuatan perubahan yang dahsyat.

Persatuan umat tidak bisa dilepaskan dari kepedulian terhadap Palestina. Hingga hari ini, rakyat Palestina masih hidup di bawah penjajahan dan kekerasan Zionis Israel. Penindasan, pembunuhan, dan penghancuran fasilitas sipil terjadi di depan mata dunia. Diam terhadap tragedi ini bukan sikap netral, melainkan kegagalan moral. Membela Palestina adalah kewajiban kemanusiaan dan konsekuensi iman, karena kezaliman di mana pun harus ditolak.

Palestina bukan hanya isu geopolitik, tetapi simbol keteguhan umat Islam dalam menjaga martabat dan keadilan. Perhatian umat tidak boleh sebatas simpati musiman, melainkan diwujudkan melalui doa yang konsisten, bantuan kemanusiaan, edukasi publik, serta dorongan kebijakan yang tegas menolak penjajahan. Kemerdekaan Palestina adalah hak, bukan hadiah.

Semua itu harus berakar pada akidah yang benar. Akidah yang lurus membentuk cara pandang yang adil dalam bermasyarakat dan bernegara. Ketika akidah lemah, kepemimpinan mudah tergelincir pada pragmatisme dan pengkhianatan amanah. Sebaliknya, akidah yang kuat melahirkan pemimpin yang takut kepada Allah dan berpihak pada kebenaran.

Dalam konteks ini, masjid seharusnya kembali dimaknai sebagai pusat peradaban. Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi ruang pembinaan umat dan pengkaderan pemimpin daerah dan bangsa. Dari masjid harus lahir generasi yang berilmu, berakhlak, peduli umat, dan memiliki visi keadilan global. Masjid yang hidup akan melahirkan pemimpin yang dekat dengan rakyat dan jauh dari kezaliman.

Umat Islam membutuhkan pemimpin Islam yang sejati, bukan sekadar simbol religius, tetapi pemimpin yang menjadikan nilai Islam sebagai ruh kepemimpinan. Pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan adalah amanah untuk memakmurkan bumi, menjaga persatuan, melindungi yang lemah, dan berani bersuara terhadap ketidakadilan, termasuk di Palestina.

Menyambut tahun baru yang bertepatan dengan 12 Rajab, umat Islam dihadapkan pada pilihan: sekadar menjadi penonton sejarah, atau menjadi pelaku perubahan. Tahun baru ini seharusnya menjadi titik tolak kebangkitan iman, persatuan umat, kepedulian terhadap Palestina, dan lahirnya kepemimpinan Islam yang membawa keadilan dan kemakmuran bagi seluruh manusia.

 

*Wallahu a‘lam bish-shawab.*

 

*RISNALDI.S.SI*

Ketua HIMMI

 

Lindoajie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *