*Isra’mi”raj-Meluruskan Niat, Menyatukan Perjuangan*

*Isra’mi”raj-Meluruskan Niat, Menyatukan Perjuangan*

Spread the love

*Isra’mi”raj-Meluruskan Niat, Menyatukan Perjuangan*

Detikappi.com Selatpanjang

Setelah pemahaman yang benar, fondasi kedua yang menentukan arah perjuangan umat adalah keikhlasan. Tanpa keikhlasan, ilmu kehilangan cahaya, amal kehilangan nilai, dan perjuangan kehilangan keberkahan. Banyak gerakan yang besar di awal namun runtuh di tengah jalan bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena niat yang bergeser.

Keikhlasan adalah kerja hati yang sering tak terlihat, namun dampaknya sangat menentukan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa nilai amal tidak diukur dari besarnya pengorbanan di mata manusia, tetapi dari lurusnya niat di hadapan Allah SWT. Inilah sebabnya mengapa keikhlasan menjadi penentu apakah perjuangan menyatukan atau justru memecah umat.

*Niat yang Lurus dalam Perjalanan Rasulullah SAW*

Perjalanan Isra’ Mi’raj terjadi pada masa paling berat dalam dakwah Rasulullah SAW—setelah wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, serta penolakan keras dari Thaif. Dalam kondisi tertekan, Rasulullah SAW tidak mengubah arah dakwahnya, tidak menurunkan standar kebenaran, dan tidak mencari jalan pintas untuk meraih simpati.

Keikhlasan Rasulullah SAW tampak dalam konsistensinya: berdakwah bukan untuk kekuasaan, pujian, atau kepentingan pribadi, melainkan semata-mata menjalankan amanah Allah. Dari keikhlasan inilah Allah menghadiahkan penghiburan, penguatan, dan visi besar melalui Isra’ Mi’raj.

*Bahaya Amal yang Kehilangan Keikhlasan*

Amal tanpa keikhlasan ibarat bangunan tanpa fondasi—tampak megah namun rapuh. Ketika niat bergeser dari Allah menuju popularitas, kelompok, atau kepentingan duniawi, maka perjuangan mudah berubah menjadi ajang kompetisi yang saling menjatuhkan.

Dalam konteks umat hari ini, hilangnya keikhlasan sering melahirkan:

1. Persaingan yang tidak sehat antar sesama pejuang dakwah

2. Fanatisme kelompok yang menutup pintu persatuan

3. Kelelahan spiritual meski aktivitas terlihat padat

Semua itu menjauhkan umat dari tujuan utama: ridha Allah dan kemaslahatan bersama.

Kalau kita membaca sirah sahabat Rasulullah SAW. Bagaimana Keikhlasan bisa Menghidupkan Umat*

Keikhlasan tidak berhenti pada Rasulullah SAW, tetapi diwariskan kepada para sahabat sebagai fondasi kejayaan Islam.

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA

Ketika diminta menyumbangkan hartanya di jalan Allah, Abu Bakar RA menyerahkan seluruh hartanya. Saat Rasulullah SAW bertanya apa yang ia sisakan untuk keluarganya, ia menjawab:

“Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”

(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ini bukan sikap emosional, tetapi puncak keikhlasan dan keyakinan yang melahirkan kekuatan umat.

2. Umar bin Khattab RA

Umar RA bersedekah dengan niat menyaingi Abu Bakar RA, namun ia mengakui keunggulan keikhlasan sahabatnya. Dari sini umat belajar bahwa keikhlasan melampaui sekadar jumlah amal.

3. Utsman bin Affan RA

Dalam Perang Tabuk, Utsman RA menyumbangkan ratusan unta beserta perlengkapannya. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”

(HR. Tirmidzi)

Keikhlasan Utsman RA memperkuat barisan umat di saat krisis.

4. Ali bin Abi Thalib RA

Ali RA tidur di tempat Rasulullah SAW saat hijrah, mempertaruhkan nyawanya tanpa mencari pujian. Ini adalah keikhlasan total dalam pengorbanan.

*Keikhlasan sebagai Perekat Persatuan*

Keikhlasan menyatukan karena ia menghilangkan ego. Orang yang ikhlas tidak sibuk mencari pengakuan, tidak mudah tersinggung, dan tidak merasa paling berjasa. Ketika keikhlasan hadir, perbedaan peran tidak menjadi sumber konflik, melainkan saling melengkapi.

Persatuan umat hanya mungkin terwujud jika setiap individu dan kelompok mau meluruskan niat: bukan untuk membesarkan nama sendiri, tetapi untuk membesarkan nilai Islam. Dalam bingkai keikhlasan, kemenangan tidak diukur dari siapa yang tampil di depan, tetapi sejauh mana kebenaran tegak dan umat terlayani.

*Melatih Keikhlasan di Tengah Zaman yang Bising*

Zaman modern adalah zaman yang bising oleh pencitraan dan pengakuan. Media sosial, panggung publik, dan budaya popularitas sering menggerus keikhlasan tanpa disadari. Karena itu, keikhlasan harus terus dilatih melalui muhasabah, doa, dan kesediaan menerima kritik.

Shalat yang diwajibkan dalam Isra’ Mi’raj menjadi sarana utama menjaga keikhlasan. Ia mengikat hati agar tetap terhubung dengan Allah, menundukkan ego, dan meluruskan niat sebelum, saat, dan setelah beramal.

*Keikhlasan sebagai Kekuatan yang Menggerakkan*

Keikhlasan bukan kelemahan, tetapi kekuatan paling sunyi dalam perjuangan. Dari keikhlasan lahir keteguhan, kesabaran, dan daya tahan yang panjang. Umat yang ikhlas mungkin tidak selalu terlihat menang di mata dunia, tetapi mereka kuat, konsisten, dan tidak mudah pecah.

*Risnaldi S,si*

 

*Ketua HIMMI Meranti*

Lindoajie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *